Kisah Solo Travelling ke Destinasi Bandung Jawa Barat - Minggu lalu,dia melakukan perjalanan liburan ke Bandung. Kota yang satu ini memang selalu menjadi pertimbangan destinasi liburan bagi warga ibu kota dan sekitarnya. Nilai sejarah, ragam kuliner, hawa sejuk, keramahan penduduk lokal, dan melimpahnya destinasi wisata yang sangat menarik menjadi alasan mengapa pada akhirnya banyak yang menjatuhkan pilihan pada kota ini.
Kisah Solo Travelling ke Destinasi Bandung Jawa Barat Dimulai
Dan kali ini merupakan perjalanan liburan yang sangat menyenangkan dan berkesan bagi dia karna dia lakukan sendirian! Awalnya dia tentu mengajak beberapa kawan untuk berlibur bersama. Namun, seperti pepatah Arab mengatakan, ‘li kulli ro’sin ro’yun’, yang artinya setiap kepala memiliki pedapatnya masing-masing. Si A ingin pergi ke sana, tapi si B inginnya pergi ke sini. Si C inginnya berangkat pada tanggal sekian, tapi si D hanya bisa pada tanggal sekian.
Ribet! Liburan dia dipertaruhkan jika harus menunggu semuanya sepakat. Tiba-tiba terlintas di pikiran dia, kenapa dia tidak pergi sendiri saja? Akhirnya selepas sholat Jum’at, dia bersiap. Mengemas berapa pakaian dan peralatan pribadi, memesan hotel, memastikan rute dan estimasi waktu perjalanan. Perjalanan dia mulai dari Kota Bekasi menggunakan motor. Selanjutnya dia mengambil rute melalui Jonggol, Cianjur, Bandung Barat, hingga sampai di Kota Bandung.
Senyum dia tersungging sepanjang jalan melihat dan merasakan indahnya pemandangan di sepanjang jalan. dia sengaja memilih rute ini karena rute ini terbilang tidak padat volume kendaraannya sehingga bisa lebih cepat, banyak pepohonan sehingga tidak terlalu panas, dan banyak pemandangan alam yang bisa dia lihat di sepanjang perjalanan seperti hamparan sawah hijau, deretan bukit dan gunung batu, hingga melintasi beberapa sungai besar.
Bahkan dia melewati beberapa destinasi wisata lokal. dia bebas berhenti di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu terburu-buru atau berdiskusi terlebih dahulu jika ingin melakukan sesuatu. Ini perjalanan yang sangat dia impikan sejak dulu.
Setelah melalui perjalanan sekitar 4 jam (termasuk istirahat), tibalah dia di Kota Bandung. Hal pertama yang dia lakukan tentunya check in di hotel atau penginapan yang telah dia pesan sebelumnya yaitu di daerah Cisitu, dekat dengan Jl. Dago. Setelah proses check in selesai, dia segera menuju kamar untuk segera beristirahat. Namun ketika dia sudah masuk, dia harus menunda istirahat dia.
Terpana dengan Pemandangan Balkon Kamar
Sudah sedari lama dia memimpikan liburan seperti ini. Melepas penat dari segala masalah ibu kota, bersantai di penginapan di daerah yang sejuk dengan pemandangan yang menyegarkan dan menentramkan, serta tidak diburu-buru oleh rencana-rencana. dia bahkan sempat berpikir untuk cukup bersantai di penginapan saja hingga akhir masa liburan dia. Malam itu rasanya semua masalah hidup hilang entah ke mana.
Keesokan harinya, sebagaimana pada hari libur lainnya, dia bangun agak siang. Kasur di penginapan tersebut seakan sulit sekali melepas pelukannya. Rasanya enggan untuk beranjak. Jika ada seseorang di samping dia, atau dia berlibur dengan kawan-kawan dia lainnya, mungkin mereka sudah bawel sekali meneriaki dia, melemparkan handuk, dan menyeret dia ke kamar mandi untuk bergegas. Namun kali ini dia yang memutuskan sendiri semuanya. Dan dia memutuskan untuk menarik selimut kembali sedikit lebih lama.
Pukul 11.00 WiB siang dia sudah siap berangkat menuju tempat wisata sekitar. Tujuan pertama dia adalah berkeliling ke tempat wisata di daerah Lembang. dia sempat mencari informasi terkait tempat wisata di daerah Lembang dan dia tertarik dengan beberapa tempat. dia memutuskan untuk menuju ke Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu.
Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu
Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa TWA Gunung Tangkuban Parahu? dia tahu bahwa Lembang salah satu surga wisata karena terdapat begitu banyak destinasi wisata yang menarik. Sebut saja Taman Grafika Cikole, Orchid Forest Cikole, Farm House Lembang, dan lainnya. Namun dia lebih memilih tempat wisata yang masih terjaga keindahannya sedari awal. Tidak banyak campur tangan manusia untuk memperindah tampilannya kecuali untuk akses jalan dan semisalnya. Dan menurut dia, itu dia dapatkan di TWA Gunung Tangkuban Parahu.
Total yang harus dia bayarkan untuk masuk ke TWA Gunung Tangkuban Parahu adalah sebesar Rp47 ribu dengan rincian sebesar Rp30 ribu untuk HTM wisatawan lokal di weekend, dan sebesar Rp17 ribu untuk HTM motor termasuk parkir.
Dia kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan berkelok dengan rimbun pepohonan nan indah serta tentunya sejuk sekali sejauh kurang lebih 4 Km sebelum sampai di Kawah Ratu, kawah terbesar dan merupakah ikon dari Gunung Tangkuban Parahu.
Setelah memarkir motor, dia berbaur dengan wisatawan lainnya. Beberapa pedagang terlihat menjajakan dagangannya. Tak lupa juga pedagang jasa yang menawarkan jasa foto langsung jadinya. dia melewati itu semua dan menuju bagian bibir kawah yang lebih tinggi dengan menapaki tangga yang tidak beraturan.
Tiba di bagian atas bibir kawah dan melihat ke bawah, pemandangan yang dapat dia lihat begitu luar biasa. Dari sini dia dapat melihat dengan jelas kawah ratu yang sangat luas. Langit biru yang membentang, putih awan yang berarak perlahan, dan hijau tetumbuhan di bagian sisi lainnya. Sempurna dengan gelap pasir kawah , dari kejauhan dapat terlihat juga dataran-dataran yang lebih rendah.
Panas matahari yang menyengat terkalahkan dengan sejuk udara sekitar dan semilir angin yang berhembus. dia bahkan tidak ingat berapa lama dia berdiri di bibir kawah tersebut, menyender pada pagar penjaga, dan terpukau dengan bertentangan alam di depan mata.
Ini saat di mana dia ingin egois; menikmati semuanya sendirian. Duduk bersandar dengan secangkir kopi juga headset di telinga yang tersambung ke handphone yang sedang memainkan musik favorit. Tanpa diganggu dengan ajakan berfoto bersama, atau mengelilingi tempat tersebut mencari spot foto menarik, atau bahkan sibuk menawar dagangan pedagang yang berkeliaran di sekitar. Waktu ini, suasana ini, ketenangan ini, dia begitu menikmatinya. .
Wisata Hutan Pinus Pal 16 Cikole
Sepulang dari TWA Gunung Tangkuban Parahu, dia tertarik untuk bersantai kembali di tengah rimbunnya hutan pinus. Pilihan dia jatuh kepada WIsata Hutan Pinus Pal 16 Cikole. Dia cukup mengeluarkan uang total Rp15 ribu untuk menikmati rimbunya Pinus di sini. Itu pun sudah termasuk biaya parkir sebesar Rp5 ribu.
Hal yang membuat dia tertarik dengan tempat ini adalah pada saat itu wisatawan tidak begitu ramai dibanding wisata serupa di sekitarnya. Apalagi harga tiket masuk yang ditawarkan jauh lebih murah. Memang di sini tidak tersedia pondokan-pondokan kayu untuk menginap, atau tempat makan besar, atau fasilitas outbond. Namun ini yang dia harapkan sehingga dia bisa lebih menikmati kealamian tempat ini. Dan gelas kopi ke dua hari ini dia habiskan di sini, dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Dan matahari mulai beranjak ke peraduaannya, menyiratkan jingga merah di angkasa. Roda motor dia mulai berputar untuk membawa dia kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan dia membayangkan betapa enaknya melewatkan malam ini dengan bersantai di penginapan, menonton televisi dengan jendela terbuka, menikmati udara dingin yang masuk dan dikelilingi oleh berbagai macam camilan dan minuman ringan. Sepertinya dia harus mampir terlebih dahulu ke mini market terdekat.
Keesokan harinya dia kembali menarik selimut lebih lama. Ini adalah hari terakhir dia di Kota Bandung. dia tidak berencana pergi ke mana pun. Jadilah dia hanya berbaring malas di atas kasur dengan TV menyala namun mata sibuk di layar handphone.
Dia tengah membuka Instagram saat dia melihat salah satu akun open trip mengungah tentang tempat dengan hamparan batu bernama Stone Garden. Foto yang ditampilkan begitu menarik. dia lalu membuka aplikasi Maps dan ternyata letaknya searah dengan jalan pulang. Stone Garden akan menjadi tempat sempurna untuk menutup liburan panjang ini.

Komentar
Posting Komentar